Bluffing gamespoker

Games PokerSiapa bilang kartu remi sebatas dapat dimainkan oleh orang-orang awas? Ternyata kartu ini juga dapat jadi penghibur saat kumpul-kumpul bersama masyarakat tunanetra. 

Kartu bergambar tiga keriting diletakkan sebagai pembuka permainan oleh Zulfikar. Ia bersama dengan ketiga temannya sedang bermain kartu remi. Ketiga temannya perhatikan kartu yang diletakkan Zulfikar. Tapi, tidak kartu bergambar yang mereka memperhatikan, melainkan ucapan Zulfikar ketika meletakkan kartu.

“Kita bermain kartu bersama dengan konsep mengingat, walaupun kita terus memegang fisik kartu, kita konsisten kudu mengingat baik-baik kartu paling akhir yang dibuang teman kita kala bermain, gara-gara kita bermain kartu tanpa saksikan,” ujar Zulfikar, salah seorang Tunanetra yang diwawancarai ketika bermain kartu remi, di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Meski dalam bermain kartu, tunanetra tidak melihat lambang kartu yang diletakkan lawan mainnya, tidak berarti mereka tidak memerlukan fisik kartu. Kartu tetap mereka pegang, sebagai patokan ketika harus adu strategi dengan kartu lawan yang sudah diletakkan di meja.

Lalu bagaimana mereka tahu gambar kartu yang dipegang? Para pemain kartu tunanetra mengaplikasikan huruf braille di pojok kiri atas kartu. “Berbagai macam nomor dan lambang kartu, kami tulis secara singkat. Misalnya, empat keriting kami tuliskan di pojok kiri atas kartu sebagai 4K,” ujar M. Rifki di tempat yang sama.

Secara generik, peraturan bermain kartu yang mereka ikuti terus disesuaikan bersama dengan keputusan yang sudah tersedia. Misalnya pemenang kartu adalah pemegang kartu bersama tiga kartu berurutan dan lambang yang mirip. Tersedia pula pemegang kartu bersama dengan jumlah angka yang lebih besar dan lambang yang serupa. “Ini dikenal bersama dengan julukan kartu polo seri,” ujar Oki Kurnia.

Baca juga :

Cara bermain kartu remi ala tunanetra ini berdasarkan kepercayaan satu mirip lain. Lantaran antar pemain tidak mampu melihat kartu yang diletakkan vs di atas meja. Adu taktik yang dilaksanakan berdasarkan ingatan terhadap kartu yang diletakkan paling akhir oleh masing masing pemain. Para pemain kartu mengaku tidak memerlukan wasit di didalam permainan mereka. Apalagi di didalam permainan, mereka kerap mengikutsertakan pemain yang memirsa. “Makanya kita terus memakai fisik kartu, tujuannya sehingga mampu adu taktik juga bersama orang awas,” ujar Zulfikar.

Bermain remi tanpa melihat kartu yang diletakkan di atas meja tidak mengurangi keasyikan mereka. Bukan tersedia yang merasa dicurangi atau dikalahkan bersama sengaja. Tiap tiap pemenang adalah pemegang kartu yang kartunya habis terlebih pernah dan yang kalah adalah pemegang kartu yang kartunya habis paling akhir. Sehingga lebih seru, tersedia kompensasi bagi pemenang dan bagi yang kalah, tetapi tidak taruhan. “Bagi yang kalah, kudu melaksanakan jalan jongkok atau jongkok didalam pas lebih dari satu menit, ini sehingga mereka konsisten semangat main kartunya,” ujar Zulfikar.

By JAGO77

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *